Pengilen Anten di halaman/natah :
a) Lukat dumun
b) Margiang Pereresikan Alit
B Biokaon, Durmenggala, Prayastita
c) Natab pekala kalaan
Natab pedengenan
Natab Banten Kala Sepetan
d Pemargi prosesi Anten :
i) Nukar base, Megunduan,Telur,jinah (genahang di tengah sok (Sok mepayas)
ii) Megat Benang Putih yang diikatkan pada 2 carang dapdap (benangnya 11 katih),simbol melangkah ke jenjang Grehasta, dengan cara berjalan saling berlawanan , kemudian mempelai pria mengikuti berjalan dibelakang mempelai wanita.,
Sambil berjalan berlawanan memutus benang sambil nanjung Sambuk (Kala Sepetan, sane misi bibit Kunyit, Kladi,Andong), tanjung sampai terbuka sehingga bibit yang ada di dalamnya keluar sebagai simbol hadirnya mertha.
Pihak Purusha membawa tetegenan (Simbol siap mengambil tanggung jawab), sambil membawa lidi 3 batang untuk nyapsap sang wiwaha Predana (simbol kerja keras dan saling mengingatkan).
Tegen tegenan ini harus diserahkan oleh orang tua pihak laki kepada anak laki sebagai simbol mengambil alih Tetegenan atau tanggung jawab orang tua laki, sementara orang tua perempuan menyerahkan sok dagangan kepada mempelai isti sebagai simbul mengambil alaih pekerjaan mertua atau orang tua perempuan.
iii) Nusuk tikeh dadakan (simbol Akasa Pertiwi), Tikeh dipegang tengadah dengan dipegang ujung ujungnya oleh pihak Predana, Pihak Purusha menghunus keris, menghadapkan ke atas, lantur nebek tikeh dadakan tersebut tegak lurus dari atas. (Pertemuan Aksara Ngadeg dan Aksara Sungsang), setelahnya tikeh dimasukkan dalm sambuk disertai telor yang dipakai tadi, kemudian letakkan di bawah tempat tidur mempelai.
iv) Selanjutnya Nandur benih sane wenten di tengah sambuk, di genah sane sampun siapang, dengan sarana cangkul yang di tegen oleh pihak Purusha
v) Dilanjutkan dengan Panen hasil atau mendapatkan pengupa jiwa, dalam hal ini disimbolkan dengan metuakan, yang hasilnya dijual oleh mempelai sebagai simbol mencari penghidupan untuk melanjutkan rumah tangga.
vi) Medagangan (menjual hasil panen, simbol mencari kehidupan)
vii) Puput, untuk ritual Ngantennya, kemudian dilanjutkan pengilen ring banten wiwaha, yang dilaksanakan di Bale Adat, kalo tidak punya bisa dilaksanakan di Sanggah atau pemerajan. denagn Tata Titi yang akan dijelaskan pada tulisan berikutnya